PENGENDALIAN HAMA TIKUS MUSIM TANAM 2021 DUSUN JONGGRANGAN DESA NGRAPAH BANYUBIRU

Hama Tikus
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama padi utama di Indonesia, kerusakan yang ditimbulkan cukup luas dan hampir terjadi setiap musim. Tikus menyerang semua stadium tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti. Secara umum, di Indonesia tidak kurang dari 150 jenis tikus, sekitar 50 jenis di antaranya termasuk genera Bandicota, Rattus, dan Mus. Enam jenis tikus lebih dikenal karena merugikan manusia di luar rumah, yaitu: tikus sawah (R. argentiventer), tikus wirok (B. indica), tikus hutan / beluk (R. tiomanicus), tikus semak / padang (R. exulans) , mencit sawah (Mus caroli), dan tikus riul (R. norvegicus). Tiga jenis lainnya diketahui menjadi hama di dalam rumah, yaitu tikus rumah (R. rattus diardi), mencit rumah (M. musculus dan M. cervicolor).
Di Indonesia, Kehilangan akibat akibat serangan tikus sawah diperkirakan dapat mencapai 200.000 – 300.000 ton per tahun. Usaha pengendalian yang intensif sering, karena baru dilaksanakan setelah terjadi kerusakan yang luas dan berat. Karena itu, usaha pengendalian tikus perlu memperhatikan perilaku dan habitatnya, sehingga dapat mencapai sasaran. Tingkat rendahnya kerusakan tergantung pada stadium tanaman dan tinggi rendahnya populasi tikus yang ada.

DI desa ngrapah juga tidak sedikit para petani yang mengalami kerugian akibat hama tikus. Apalagi sepert musim sekarang yang mana curah hujan terlalu besar sehingga merendam area pertanian di sekitar desa ngrapah.

Pada tanggal 31 januari 2021 khusus nya warga dusun jonggrangan serentak melakukan kegiatan racun tikus masal. Karena jejak jejak tanaman padi yang di rusak oleh tikus di sekitar timur dusun jonggrangan sudah banyak sekali, Dengan racun tikus yaitu RACUMIN yang mana cara penggunaanya di campur dengan beras dan minyak goreng. Banyak warga jonggrangan yang antusias ikut malaksanakan kegiatan ini dengan harapan hama tikus bisa kerkurang

Pengendalian
Tikus sawah sampai saat ini masih menjadi hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Sebaran populasinya cukup luas dari dataran sampai pegunungan, dari areal sawah sampai di gudang / perumahan. Kerusakan padi akibat serangan tikus yang mencapai laporan dilaporkan pertama kali pada tahun 1915 di Cirebon, Jawa Barat, selanjutnya tiap tahun terjadi peningkatan kerusakan tanaman padi dengan intensitas serangan 35%. Pengendalian yang sesuai untuk saat ini adalah pengendalian hama terpadu, dengan pengendalian kultur teknis, hayati, mekanis, dan kimiawi.
Kultur teknik Tanam serempak.
Penanaman serempak tidak harus bersamaan waktunya, jarak antara tanam awal dan akhir maksimal 10 hari. Dengan demikian diharapkan pada hamparan sawah yang luas kondisi pertumbuhan tanaman relatif seragam. Jika varietas yang ditanam dari petani yang berbeda, varietas padi yang berumur panjang yang ditanam lebih dahulu, sehingga minimal dapat mencapai panen yang serempak.
Apabila penanaman serempak, maka puncak populasi tikus menjadi singkatnya, yaitu ketika masa generatif dan tersedia, pada saat itu tikus sudah sesuai dengan persawahan. Kepadatan populasi mulai turun pada 6-7 minggu setelah panen, tikus mulai meninggalkan sawah dan kembali ke tempat persembunyiannya. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi perkembangan tikus, dan sangat berlainan rencana padi tidak serempak yang memberi peluang tikus untuk lama tinggal di persawahan karena pakan tersedia.
Meminimalkan tempat persembunyian / tempat tinggal. Ukuran pematang sebaiknya mempunyai ketinggian sekitar 15 cm dan lebar 20 cm, pematang seperti ini tidak mendukung tikus dalam membuat sarang di sawah, sebab kurang lebar dan kurang tinggi bagi mereka, sehingga tidak nyaman. Mereka membutuhkan paling tidak tinggi dan lebar pematang sekitar 30 cm. Lahan yang dibiarkan tidak diolah juga menjadi sarang yang nyaman bagi tikus untuk sembunyi. Oleh karena itu pengolahan tanah akan mempersempit peluang menjadi tempat persembunyian mereka

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan