RUTINITAS TAHUNAN ADAT ISTIADAT ”NYADRAN” YANG MASIH LAKUKAN MASYARAKAT

Indonesia adalah negara multikultural, negara yang di dalamnya terdapat ribuan pulau yang dihuni oleh berbagai suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki budaya yang beragam. Budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh suatu kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui kebudayaan, manusia beradaptasi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidup agar dapat bertahan dalam kehidupan.

Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kebudayaan. Dikarenakan manusia di satu sisi menjadi kreator sekaligus produk dari budaya tempat dia hidup. Hubungan saling mempengaruhi ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa adanya budaya, begitupun sebaliknya. Kehidupan berbudaya merupakan ciri khas manusia dan akan terus berlangsung mengikuti alur zaman. Kebudayaan tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia dan hampir selalu mengalami proses penciptaan kembali. Perkembangannya bisa berlangsung cepat dan juga berkembang secara perlahan tergantung manusia.

Sejarah mencatat bahwa perkembangan kebudayaan semakin mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu, corak dan bentuknya diwarnai oleh unsur budaya yang bermacam-macam. Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh kondisi sosial budaya masyarakat antara yang satu dengan yang lain berbeda. Perbedaan tersebut berinteraksi secara terus-menerus menjadi sebuah norma yang kemudian ditanamkan dan diyakini oleh masyarakat. Kemudian  diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Salah satu budaya yang mengalami akulturasi yakni tradisi nyadran. Nyadran merupakan tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Jawa secara turun temurun yakni dengan berkunjung ke makam para leluhur untuk berdoa dan membersihkan makam. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, berdoa kepada leluhur. Seusai berdoa kepada leluhur, dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama.

Secara bahasa, kata nyadran berasal dari kata sraddha yang berarti keyakinan. Tradisi nyadran bertujuan untuk menghormati para leluhur dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Nyadran menjadi tradisi yang penting bagi masyarakat Jawa dan hampir tidak pernah terlewat sampai saaat ini.

Didesa ngrapah kecamatan banyubiru sendiri juga masih di laksanakan adat istiadat ini. Diharapkan dengan di adakan kegiatan ini khususnya tiap dusun di desa ngrapah mendapatkan kemakmuran dan di jauhkan dari maslah dan malapetaka . Di dusun jonggrangan dan pengkol kegiatan nyadran atau sadranan di laksanakan pada tanggal 19 april 2021 atau jum at wage . Tidak semua tiap dusun melaksanakan kegiatan nyadran pada waktu yang sama semua waktu di tentukan dengan kematapan keputusan di musyawarah dengan tokoh agama tokoh dusun dan lain lain.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan