Sejarah Desa

Sejarah Desa Ngrapah

Terdengar cerita daerah pedesaan yang subur yang berada antara  pegunungan kelir dan pegunungan Ungaran di atas tanah yang datar dan dipisahkan sawah-sawah antara Dusun yang satu dan Dusun yang lain, hiduplah sekelompok masyarakat yang rukun dan damai meskipun penduduk-penduduk dalam kehidupan primitif, Desa “Arofah” orang menyebutnya. Sekitar 1,5 kilometer ke arah barat dari kota Kecamatan Banyubiru. Konon Desa Arofah merupakan Desa Santri  yang berasal dari berbagai daerah. Desa Arofah, lama kelamaan menjadi ramai dengan adanya pendatang yang ingin menuntut ilmu agama dan dan akhirnya banyak yang tinggal di desa itu. Kemajuan perkembangan ilmu keagamaan itu berkat salah seorang kyai yang bernama Kyai Arofah yang telah benar-benar diakui tentang ilmu agamanya oleh para alim dan ulama yang berasal dari luar daerah. Dari hari  kehari cerita ini tersebar keseluruh manca desa. Sehingga banyak santriawan dan Santrawati yang berdatangan dan pada akhirnya sampai terbangun beberapa bangunan-bangunan fisik baik bangunan Pondok Pesantren yang berdiri di dua dusun yaitu Dusun Arofah dan Pondok Pesantren yang dibangun di Dusun Nglembu.

Perkembangan demi perkembangan Desa Arofah banyak kedatangan penduduk dari luar daerah yang akhirnya berkembang menjadi beberapa dusun seperti ada Dusun Mendut, Dusun Kempul, Dusun Pengkol, Dusun Keyongan, Dusun Gadingan, Dusun Setro, Dusun Ngampel, Dusun Jonggrangan, Dusun Deles, Dusun Ngogak, Dusun Ngendo, Dusun Grogolan, dan Dusun Gemenggeng lewat musyawarah oleh para pejabat Desa pada saat itu desa AROFAH diganti dengan nama Desa “ NGRAPAH “. Tradisi yang muncul setiap tahun setelah era perubahan terjadi, yaitu perubahan demi perubahan baik dari peningkatan ekonomi dari bercocok tani, beternak dan berkebun, dari sektor pendidikan masih mendominasi lewat pendidikan informal dan untuk  pendidikan formal sampai sekarang sudah banyak kemajuan tebukti sudah banyak yang lulus sarjana. Keterpaduan antara Pemerintah Desa dengan para Lembaga Desa, Tokoh masyarakat, tokoh Agama dan tokoh pemuda yang ada pada saat ini telah melahirkan Desa Ngrapah lebih tertata baik infrastruktur, sektor ekonomi, sektor pendidikan, dan sektor keamanan menjadikan Desa Ngrapah lebih mandiri.

 Desa Ngrapah sebagai Desa Berdikari

Berdasarkan dari hasil rekomendasi desa yang dikeluarkan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BAPERMASDES), Desa Ngrapah masuk ke dalam salah satu desa di Kabupaten Semarang sebagai Desa Berdikari. Desa Berdikari merupakan agregasi dari kemandirian dalam Desa Mandiri. Sebagai Desa Berdikari, Desa Ngrapah harus mampu melepaskan dirinya dari ketergantungan dan patronasi pemerintah supradesa. Selain itu, Desa Ngrapah juga harus memiliki kemampuan untuk mengenali secara detail wilayah nya sendiri. Rintisan Desa Berdikari dibangun dengan konsep kawasan bukan hanya desa sebagai wilayah administratif, tetapi lebih didasarkan pada potensi yang dimiliki serta interrelasi antar desa. Konsep Desa Berdikari yaitu ingin mengembalikan fungsi desa sebagai pelembagaan masyarakat sipil, sehingga pemerintah desa dan masyarakat desa mampu menciptakan kolaborasi kerja untuk menjawab semua permasalahan yang ada di desa.

Desa Ngrapah dijadikan sebagai Desa Berdikari agar mampu menggali potensi-potensi yang dimiliki oleh desa tersebut dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki agar mengurangi ketergantungan terhadap pihak maupun wilayah lain. Selain itu sebagai Desa Berdikari, Desa Ngrapah juga harus mampu mengembangkan sistem informasi pembangunan yang lengkap dan dapat dengan mudah diakses oleh para pihak. Desa Ngrapah juga merupakan salah satu Desa SMART, hal ini ditunjukan dengan mulai dikembangkannya program desa berbasis online di Desa Ngrapah. Jadi, segala informasi yang dimiliki oleh Desa Ngrapah bisa diakses oleh para pihak secara online melalui blog maupun website Desa. Melalui blog atau website informasi-informasi yang sekiranya diperlukan oleh para pihak dapat diakses dengan mudah secara online. Hal ini tentunya akan mempermudah para pihak yang membutuhkan data atau sekedar hanya ingin mengetahui informasi-informasi seputar perkembangan Desa Ngrapah dapat diperoleh melalui online. Seperti halnya data monografi penduduk desa, data-data aspek perekonomian,  penggunaan lahan, hingga kelembagaan apa saja yang terdapat di Desa Ngarapah dapat dengan mudah diakses secara online. Selain itu sebagai Desa Berdikari, Desa Ngrapah harus menjadi desa yang mandiri dan meningkatkan perkembangan desa baik dalam sgei pembangunan maupun non pembangunan. Sebagai Desa Berdikari, diharapkan Desa Ngrapah mampu memenuhi kebutuhan dasar baik sandang, pangan, maupun energi.

Konstelasi Kecamatan Banyubiru terhadap Kabupaten Semarang

Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Semarang nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Semarang Tahun 2011-2031 dalam paragraf 2 Strategi Penataan Ruang wilayah pada pasal 5 ayat 1 huruf h, menjelaskan bahwa Kecamatan Banyubiru termasuk dalam strategi penyediaan ruang wilayah dan prasarana wilayah sebagai penyagga perkonomian utamanya dengan pengembangan kawasan untuk fungsi pariwisata. Kawasan pariwisata yang ada di Kecamatan Banyubiru diantaranya adalah Danau Rawa Pening, Bukit Cinta, objek wisata pendidikan Langen Tirto Muncul, dan Pemandian Air Alam Muncul.

Kawasan pariwisata yang pertama adalah Kawasan Rawapening yang terletak di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang merupakan salah satu destinasi pariwisata yang sedang dikembangkan. Sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah daerah Provinsi Jawa Tengah, kawasan ini akan dikembangkan sebagai Pusat Pariwisata Provinsi Jawa Tengah yang khususnya meningkatkan kea rah pariwisata alam dengan skala pelayanan regional sehingga dapat meningkatkan citra kawasan. Dengan demikian obyek wisata Kawasan Rawa Pening dapat berkembang menurut skala nasional dan internasional. Potensi pengembangan obyek wisata Kawasan Rawapening sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah Kabupaten Semarang yang akan dikembangkan ke arah pariwisata alam.

Kawasan pariwisata yang kedua yaitu Bukit Cinta yang terletak di Desa Kebondowo Kecamatan Banyubiru. Bukit Cinta merupaka sebuah tempa wisata yang terdapat di bagian tepi kawasan wisata Rawa Pening. Ketiga adalah Langen Tirto Muncul yang merupakan obyek wisata pendidikan di Kabupaten Semarang. Lokasi taman wisata Langen Tirto Muncul terletak di Desa Rowo Bone Kecamatan Banyubiru. Terletak di lereng gunung Gajah Mungkur. Selanjutnya tempat wisata yang berada di Kecamatan Banyubiru adalah Pemandian Air Alam Muncul yang terletak di Desa Rowoboni. Pemandian Air Alam Muncul ini memiliki air kolam yang berasal langsung dari sebuah mata air yang terletak di bagian dasar kolam.

Pada Peraturan Daerah Kabupaten Semarang nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Semarang Tahun 2011-2031 pasal 36 ayat 2 huruf c, menjelaskan bahwa Bukit Cinta, taman rekreasi Langen Tirto Muncul, dan Pemandian Air Alam Muncul merupakan kawasan peruntukan pariwisata yang diarahkan pada pembentukan WPP 3 meliputi Kecamatan Ambarawa, Banyubiru, Tuntang, dan Getasan dengan pusat pengembangan di Kawasan Kopeng dan Ambarawa yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan secara potensi dan daya tarik wisata wilayah.

Pengembangan obyek wisata di Kecamatan Banyubiru perlu memperhatikan preferensi pengunjung agar perubahan kondisi atau kualitas pariwisata dapat memberikan manfaat ganda baik bagi perubahan pariwisata (pengunjung) dan pengelola pariwisata (pemerintah daerah). Selain itu, dengan memperhatikan adanya biaya lingkungan, termasuk juga adanya nilai atau harga penggunaan sumberdaya alam antar waktu atau antar generasi, diharapkan generasi mendatang dapat turut menikmati keindahan serta manfaat alam yang dirasakan generasi sekarang. Obyek wisata yang berada di Kecamatan Banyubirumemiliki keunggulan keanekaragaman hayati, manfaat langsung maupun tidak langsung yang terkait dengan fungsi ekologis yang penting sehingga tidak hanya dianggap sebagai obyek wisata saja. Oleh karena itu, perlunya dukungan dari penduduk dan pengunjung terhadap program pengembangan obyek wisata di Kecamatan Banyubiru.

Sumber: Dokumentasi, 2016

Danau Rawa Pening

 

Hasil dampak dan pengganda pendapatan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa sektor jasa member nilai terbesar jika dibanding sektor lain. Adapun sektor berikutnya yang menyusul adalah sektor pertanian, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor perdagangan, dan sektor pariwisata. Kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penigkatan kepuasan pengunjung obyek wisata melalui beberapa aspek yang dikelompokkan menjadi dua kategori umum, yaitu lingkungan dan budaya.

 

Konstelasi Desa Ngrapah terhadap Kecamatan Banyubiru

Akses untuk menuju Desa Ngrapah mudah dijangkau. Jarak Desa Ngrapah ke Ibu Kota Kecamatan sekitar 1,5 km.Pengaruh Desa Ngrapah terhadap Kecamatan Banyubiru dapat dilihat dari aspek perekonomian, penggunaan lahan, dan pariwisata. Pengaruh ekonomi di Desa Ngrapah cukup besar karena di Desa Ngrapah cukup banyak masyarakat yang memiliki ternak dan perikanan. Ternak di Desa Ngraah macam-macam jenisnya seperti ayam, kambing, sapi, dan itik. Ada pun di Dusun Mendut terdapat Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Non Ruminansia “Satuan Kerja Itik – Banyubiru” yang sangat berpeluang untuk meningkatkan penghasilan masyarakat di Desa Ngrapah. Dalam satu hari ternak itik dapat menghasilkan 100 telur itik yang sudah menetas. Hasil panen itik tersebut diambil oleh pedagang-pedagang sekitar Kecamatan Banyubiru yang nantinya juga akan didistribusikan ke daerah sekitar Kabupaten Semarang.

Sumber: Dokumentasi, 2016

Satuan Kerja Itik di Dusun Mendut

 

Aspek penggunaan lahan juga berpengaruh untuk Desa Ngrapah. Di setiap dusun di Desa ngrapah memiliki sawah yang  cukup luas, yang terdiri dari sawa irigasi setengah teknis dengan luas 99 Ha, sawah tadah hujan dengan luas 31 Ha, dan rawa sebesar 40,88 Ha (Data Monografi Desa, 2016). Pengaruh untuk Kecamatan Banyubirunya adalah terdapat beberapa butuh tani yang kerja di persawahan Desa Ngrapah. Hasil panennya pun beragam seperti pagi dan jagung yang jika sudah panen akan didistribusikan ke daerah Kecamatan Banyubiru dan Kabupaten Semarang. Pada aspek pariwisata, di Dusun Setro akan direncanakan pembuatan Desa Wisata Alam yang nantinya akan menjadi daya tarik untuk Desa Ngrapah terhadap Kecamatan Banyubiru.

 

Facebook Comments